Kamis, 31 Januari 2019

Keterkaitan Manusia dengan Unsur Budaya

      Halo teman-teman pengunjung blog, kembali lagi bersama saya. Sebelumnya saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian, karena telah menyempatkan waktu untuk berkunjung sekaligus membaca di blog ini. Setiap negara pasti mempunyai budaya-budaya yang berbeda, apalagi negara kita tercinta ini yang setiap daerah mempunyai budayanya masing-masing. Nah, kali ini saya ingin membahas tentang keterkaitan manusia dengan unsur budaya tersebut.

  1.  Pengertian Manusia
      Sebelum mengenal budaya dan apa keterkaitannya dengan manusia kita harus mengerti definisi atau pengertian dari manusia. 
    Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
        Secara Islam manusia adalah salah satu makhluk ciptaan tuhan yang sempurna, karena manusia dikaruniai akal dan pikiran tidak seperti makhluk-makhluk lainnya. 
     Secara umum manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain, oleh karena itu manusia senantiasa membutuhkan interaksi dengan manusia yang lain. Singkatnya manusia adalah makhluk sosial yang suka hidup berkelompok karena mereka selalu membutuhkan orang lain (manusia lain).


      2.  Pengertian Hakikat Manusia

         Hakikat manusia adalah makhluk yang memiliki sifat sosial, individualitas, dan moralitas, yang mana sifat tersebut menjadi dasar dan tujuan dari kehidupan manusia yang sewajarnya atau menjadi dasar dan tujuan setiap orang dan kelompoknya. Dengan keberadaan sifat itu pula maka setiap manusia akan saling membutuhkan, saling membantu, dan saling melengkapi dan juga selalu berinteraksi dengan manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya, dan interaksi tersebut merupakan wadah untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya (M.J. Langeveld :1955).
      
        Disebut sifat hakikat manusia karena secara haqiqi sifat tersebut hanya dimiliki oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Karena manusia mempunyai hati yang halus dan dua pasukannya. Pertama, pasukan yang tampak yang meliputi tangan, kaki, mata dan seluruh anggota tubuh, yang mengabdi dan tunduk kepada perintah hati. Inilah yang disebut pengetahuan. Kedua, pasukan yang mempunyai dasar yang lebih halus seperti syaraf dan otak. Inilah yang disebut kemauan. Pengetahuan dan kemauan inilah yang membedakan antara manusia dengan binatang.


     3.  Kepribadian Bangsa Timur

     Manusia dimuka bumi ini mendiami wilayah yang berbeda, ada yang mendiami wilayah timur, wilayah barat dan wilayah timur tengah. Hal ini membuat kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan dan kepribadian setiap manusia suatu wilayah berbeda dengan yang lainnya.  Negara Indonesia termasuk ke dalam bangsa Timur, yang dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian baik. Bangsa Timur dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat.  Orang-orang dari wilayah lain sangat suka dengan kepribadian bangsa Timur, mengapa? Karena mereka senang dengan kepribadian bangsa Timur yang tidak individualis dan saling tolong menolong.

    Kepribadian bangsa timur dapat diartikan suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya terhadap lingkungan. Kepribadian bangsa timur pada umumnya merupakan kepribadian yang mempunyai sifat toleransi yang tinggi. Kepribadian bangsa timur, kita tinggal di Indonesia termasuk ke dalam bangsa timur, dikenal sebagai bangsa yang berkepribadian baik. Di dunia bangsa timur dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat

     Bangsa timur identik dengan benua asia yang penduduknya sebagian besar berambut hitam, berkulit sawo matang dan adapula yang berkulit putih, bermata sipit. Sebagian besar cara berpakaian orang timur lebih sopan dan tertutup mungkin karena orang timur kebanyakan memeluk agama islam dan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Namun di zaman yang sekarang ini orang timur kebanyakan meniru kebiasaan orang barat. Kebiasaan orang barat yang tidak sesuai atau bertentangan dengan kebiasaan orang timur dapat memengaruhi kejiwaan orang timur itu sendiri.


  4.  Unsur-unsur Kebudayaan

    Kebudayaan atau budaya setiap masyarakat tentu terdiri dari  unsur-unsur tertentu yang merupakan bagian dari suatu kebulatan. Ada beberapa pendapat ahli tentang unsur-unsur kebudayaan, sebagai berikut :

Melville J. Herskovits menyebutkan ada empat unsur pokok kebudayaan, yaitu :
  • Alat-alat teknologi
  • Sistem ekonomi
  • Keluarga
  • Kekuasaan politik
Bronislaw Malinowsky menyebutkan empat unsur kebudayaan sebagai berikut :
  • Sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara anggota masyarakat.
  • Organisasi ekonomi.
  • Alat-alat dan lembaga atau petugas pendidikan seperti keluarga.
  • Organisasi kekuatan atau politik.
Clyde Kluckhohn menyebutkan tujuh unsur kebudayaan, sebagai berikut :
  • Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya).
  • Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya).
  • Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan, dan seterusnya).
  • Bahasa (lisan maupun tertulis).
  • Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya).
  • Sistem pengetahuan.
  • Sistem kepercayaan (religi).

Unsur-unsur pokok kebudayaan di atas disebut sebagai kebudayaan universal (cultural universals). Unsur-unsur kebudayaan ini masih dapat dipecah lagi menjadi unsur-unsur kebudayaan yang lebih kecil lagi. Ralph Linton menyebutnya sebagai kegiatan-kegiatan kebudayaan (cultural activity). Contohnya adalah cultural universals sistem mata pencaharian masih dipecah lagi atas cultural activity pertanian, peternakan, nelayan, perdagangan, dan sebagainya. 


    5.  Wujud Kebudayaan

      Menurut Koentjaraningrat, Wujud Kebudayaan Terbagi Dari Beberapa Poin, Yaitu :

1). Nilai Budaya

Nilai – Nilai Ini Dipelajari Oleh Masyarakat Sejak Kecil, Sulit Untuk Dipisahkan Dan Menghasilkan Gagasan Di Kemudian Hari. Bisa Berupa Buah Pikiran, Tingkah Laku Maupun Benda – Benda Tertentu.

2). Sistem Sosial

Kebudayaan Dalam Sistem Sosial Sifatnya Konkret Dan Juga Bisa Diabadikan. Sistem Ini Menunjukan Tingkah Laku Manusia Yang Selalu Berjalan Dengan Pola Tertentu Serta Aturan-Aturan Tertentu.

3). Kebudayaan Fisik

Artinya Mempunyai Bentuk Dan Dapat Dilihat. Misalnya Saja Hasil Budaya Seperti Candi, Baju Adat Dan Gamelan Serta Benda – Benda Sejarah Lainnya


   6.  Orientasi Nilai Budaya


     Kluckhohn dalam Pelly (1994) mengemukakan bahwa nilai budaya merupakan sebuah konsep dengan ruang lingkup luas yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat, mengenai itu satu sama lain saling berkaitan dan merupakan sebuah sistem nilai-nilai budaya. 

   Secara fungsional sistem nilai ini mendorong individu untuk berperilaku seperti apa yang ditentukan. Mereka percaya, bahwa hanya dengan berperilaku seperti itu mereka akan berhasil (Kahl, dalam pelly, 1994). Sistem nilai itu menjadi pedoman yang melekat serta erat emosional pada diri seseorang atau sekumpulan orang, malah merupakan tujuan hidup yang diperjuangkan. Oleh karena itu, merubah sistem nilai manusia tidaklah mudah, dibutuhkan waktu. Sebab nilai-nilai tersebut merupakan wujud ideal dari lingkungan sosialnya. Dapat pula dikatakan bahwa sistem nilai budaya suatu masyarakat merupakan wujud konsepsional dari kebudayaan mereka, yang seolah-olah berada di luar dan di atas para individu warga masyarakat itu.


  7.  Perubahan Kebudayaan

     Teori-teori mengenai perubahan-perubahan masyarakat sering mempersoalkan perbedaan antara perubahan-perubahan kebudayaan. Apabila perbedaan perbedaan pengertian tersebut dapat dinyatakan dengan tegas, maka dengan sendirinya perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dan perubahan-perubahan kebudayaan dapat di jelaskan.

    Kingsley Davis berpendapat “bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan”. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu: kesenian, ilmu pengetahuan, tekhnologi, filsafat, dan sebagainya. Bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturan dalam organisasi sosial. Sebagai contoh dikemukakan perubahan pada logat bahasa Aria setelah terpisah dari induknya. Akan tetapi, perubahan sosial tersebut tidak mempengaruhi organisasi sosial masyarakatnya. Perubahan tersebut lebih merupakan perubahan kebudayaan ketimbang kebudayaan sosial (Soerjono Soekanto,2006: 266).

    Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, acap kali tidak mudah untuk letak garis pemisah antara perubahan sosial dan kebudayaan. Hal itu di sebabkan tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan, dan sebaliknya tidak ada kebudayaan yang tidak terjelma kedalam suatu masyarakat. Hal itu mengakibatkan garis pemisah didalam kenyataan hidup antara perubahan sosial dan kebudayaan lebih sukar lagi untuk di tegaskan. Biasanya antara kedua gejala itu dapat ditemukan hubungan timbal balik sabagai sebab dan akibat(Soerjono Soekanto, 2006: 268).

    Perubahan kebudayaan dapat dibedakan dapat dibedakan dalam beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut :
  1.  Perubahan lambat (evolusi) dan perubahan cepat (revolusi)
  2.  Perubahan kecil dan perubahan besar
  3.  Perubahan yang dikehendaki (intended change) atau perubahan yang direncanakan (planned change) dan perubahan yang tidak dikehendaki (unintended change) atau perubahan yang tidak direncanakan (unplanned change) (Soerjono Soekanto,2006: 274).

   Penyebab terjadinya perubahan kebudayaan terbagi menjadi 2 yaitu faktor yang mendorong dan faktor yang menghambat terjadinya sebuah perubahan. Dan semua akan diterangkan dalam bentuk poin-poin sebagai berikut:

1. Faktor yang mendorong jalannya proses perubahan

a) Kontak dengan kebudayaan lain
b) Sistem pendidikan yang maju
c) Sikap menghargai hasil karya seseorang dan sikap keinginan untuk maju
d) Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan menyimpang
e) Sistem lapisan masyarakat yang terbuka

2. Faktor yang menghambat terjadinya perubahan

a) Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
b) Pengembangan ilmu pengetahuan yang terlambat
c) Sikap masyarakat yang tradisionalistis
d) Adanya kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat atau vested interest
e) Rasa takut akan terjadi kegoyahaan terhadap integrasi kebudayaan

     

8.   Kaitan Manusia dan Kebudayaan 

    Budaya sebagai sistem gagasan menjadi pedoman bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku. Seperti apa yang dikatakan Kluckhohn dan Kelly bahwa “Budaya berupa rancangan hidup” maka budaya terdahulu itu merupakan gagasan prima yang kita warisi melalui proses belajar dan menjadi sikap perilaku manusia berikutnya yang kita sebut sebagai nilai budaya.

   Berdasarkan penjelasan di atas hubungan manusia dengan kebudayaan adalah kebudayaan merupakann hasil dari ide, gagasan dan pemikiran baik nyata ataupun abstrak dan juga rancangan hidup masa depan. Sehingga dapat diartikan pula bahwa semakin tinggi tingkat kebudayaan manusia, semakin tinggi pula tinggkat pemikirian setiap manusia. Kebudayaan itu sendiri  digunakan untuk melangsungkan kehidupan bermasyarakat  antar manusia karena sifat manusia yaitu makhluk social yaitu manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan harus hidup dengan manusia lainnya.

   Sehingga bisa dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berbudaya. Manusia sebagai makhluk berbudaya berarti manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dari makhluk-makhluk lain yang diciptakan di muka bumi ini yaitu manusia memiliki akal yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan ide dan gagasan yang selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Oleh karena itu manusia harus menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan kepemimpinannya di muka bumi disamping tanggung jawab dan etika moral harus dimiliki, menciptakan nilai kebaikan, kebenaran, keadilan dan tanggung jawab agar bermakna bagi kemanusiaan. Selain itu manusia juga harus mendayagunakan akal budi untuk menciptakan kebahagiaan bagi semua makhluk Tuhan di muka bumi ini.

    Secara sederhana hubungan antara manusia dengan kebudayaan ketika manusia sebagai perilaku kebudayaan,dan kebudayaan tersebut merupakan objek yang dilaksanakan sehari-hari oleh manusia.

     Di dunia sosiologi manusia dengan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya walaupun keduanya berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang butuh,ketika manusia menciptakan kebudayaan,dan kebudayaan itu tercipta oleh manusia. Contoh-contoh Hubungan Antara Manusia dengan Kebudayaan : 


  1.  Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan

    Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau biasa
     nya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-laki yang
     melamar.

  2.  Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda ( urban dan rural ways of life)

    Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang di besar
    kan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk menonjolkan diri
    di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa lebih mempunyai sikap
    percaya pada diri sendiri dan sikap menilai ( sense of value ).

  3.  Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas sosial

   Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi,
   rendah dan menengah. 

  4.  Kebudayaan khusus atas dasar agama

    Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang
    berbeda-beda di kalangan umatnya.

  5.  Kebudayaan berdasarkan profesi

    Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang pengacara
    dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara mereka bergaul.


    Kesimpulan dari informasi tulisan blog ini adalah kebudayaan adalah hasil cipta  dan karsa manusia jadi hubungan manusia tidak dapat di pisahkan karena budaya itu sendiri lahir hasil dari pemikiran manusia yang di implementasikan lewat  sikap, perbuatan manusia secara turun temurun dan terus menurus sehingga menjadi sebuah kebiasaan dalam suatu wilayah maupun suatu organisasi.







Daftar Pustaka

1.  Leslie Stevenson & David L. Harberman, Bentang Budaya, 2001, Sepuluh Teori Hakikat Manusia,

2.  Zainal Abidin, 2009, Filsafat Manusia, PT. Persadaya Rosdakarya, Bandung,

3.  Pelly, Usman. 1994. Teori-Teori Ilmu Sosial Budaya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Penyusun, Tim. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa, Jakarta.

4. Ernst Cassirer, 1987, MANUSIA DAN KEBUDAYAAN : Sebuah Esei Tentang Manusia, Gramedia, Jakarta.

5.  Mudji Sutrisno & Hendar Putranto, 2005,  Teori - Teori Kebudayaan, PT. Kanisius, Yogyakarta,

6.  Koentjaraningrat, 2000, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : Radar Jaya Offset,

7.  C. Kluckhohn, 1953,  Universal Categories of Culture.

8.  Nyoman Kutha Ratna, 2012, Antropologi Sastra: Peranan Unsur-unsur Kebudayaan dalam Proses Kreatif, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.