Kamis, 13 Desember 2018

Analisis Mengenai Suku Tengger

          
Hasil gambar untuk perkembangan suku tengger
   
        Halo para pengunjung blog, terima kasih karena telah mau meluangkan waktu untuk membaca blog saya. Kalau sebelumnya saya membahas tentang Ilmu Sosial Dasar, dan Masalah di Indonesia. Sekarang saya ingin membahas salah satu suku dari Indonesia yaitu suku Tengger.

          Suku Tengger atau juga disebut wong Tengger atau wong Brama adalah penduduk yang tinggal di dataran tinggi sekitar kawasan pegunungan Bromo. Penduduk suku Tengger menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Purbolinggo, dan Kabupaten Malang. Luas daerah Tengger kurang lebih 40 km dan utara ke selatan : 20-30 km, dan timur ke barat, diatas ketinggian antara 1000m - 3675m. Jumlah populasi penduduk yang telah dilakukan survey berjumlah 500.000 populasi, jumlah umat Hindu 10% dari jumlah populasi penduduk, sedangkan 50% umat Buddha, dan 40% beragama Islam.


Perkembagan Suku Tengger

     Perkembangan desa Tengger akibat pemekaran wilayah, disebabkan pertambahan jumlah penduduk, jarak serta jauhnya wilayah dengan dusun dusun yang lainnya, Namun demikian wilayah desa Tengger dapat dikenal dari simbolnya : logat bahasa (bahasa Jawa - Tengger), budaya, dan tempat sakral (Danyang,Sanggar,Petren), rumah dengan pawon, pakaian adat, pakaian Dukun dengan warna hitam-hitam dengan selempang kuning. Pakaian sehari - hari baik pria wanita menggunakan sarung, demikian pula wanita Tengger menggunakan sarung yang ujung ditalikan, tapih dan ikat kepala disebut ketu. Secara morfologis berkulit sawo-matang, sama dengan orang Jawa pada umumnya, hanya khusus pada anak-anak muda terlihat pipi agak kemerahan hal ini disebabkan suhu udara lingkungan dingin. Sifat masyarakatnya yang sederhana dan terbuka, menghargai orang lain dan merupakan indikasi kehidupan suku Tengger.


Kelahiran dan Masa Anak


Hasil gambar untuk anak suku tengger


        Setiap tahapan kehidupan manusia melalui beberapa ritual adat :
  1. Upacara sayut artinya upacara 7 bulan bayi dalam kandungan, orang Jawa disebut Mitoni, hal ini dimaksudkan agar bayi yang lahir dalam keadaan selamat dan berbudi luhur,
  2. Upacara kekerik atau cuplak puser artinya terima kasih kepada Sang Hyang Widhi bayi yang dikandung selamat,
  3. Upacara Tugel Kuncung (laki-laki) dan Tugel Gombak (perempuan) dengan pemotongan sedikit rambut dimaksudkan menjauhkan dari sengkala, karena usia tersebut manusia nmulai akil balik.

Kematian


Gambar terkait

        Masyarakat Tengger, seperti halnya suku Jawa mempunyai tempat atau area pemakaman (kuburan) yang dianggap sakral. Namun demikian teknik atau tata ruangnya pada suku Tengger pun terdapat perbedaan. Seperti pemakaman suku Tengger di Desa Wonokitri mempunyai cara bahwa pada lokasi mempunyai ruang untuk satu keturunan artinya "Sak Wadya Balane", sedangkan tanda nama ditaruh di bagian tepi. Makam Desa Sadaeng makam diberi rumah kecil atau dicungkup, sedangkan desa lain seperti Desa Ngadas, Poncokusumo, Gubuklakah, Mororejo pada makam lingkungan terbuka. Informasi dari bapak Supayadi (Dukun Wonokitri), dan bapak Mujono (Dukun Ngadas) menjelaskan penguburan mayat dilakukan dengan cara dipikul dengan bandhusa (keranda atau peti mati), sedangkan penguburannya, kepala menghadap selatan atau timur searah gunung Bromo..


Perkawinan

        Istilah perkawinan orang Tengger disebut Walagara dalam bahasa sanskerta wala (anak, bocah, lare), gara (rabi, kawin). Menurut Suyitno (2001) walagra merupakan perpanjangan dari wa (wadah, tempat), la (las, isi), ga (guwo, garba, perut, kandungan wanita, ibu, biyung), dan ra (tubuh, badan, raga). Proses perkawinan dimulai dari masa pacaran, atau dijodohkan dan kedua masing orang tua menghadap Petinggi dan Dukun untuk mencari hari baik menurut perhitungan Tengger Saptawara dan Pancawarna. Bulan yang tidak diperbolehkan untuk acara Walagara adalah bulan kapitu (ketujuh) dan kasanga (kesembilan), serta dengan perhitungan ramalan oleh Dukun apakah jatuh pada sandang, pangan, sakit atau kematian. Apabila perhitungan ramalan jatuh pada sakit atau kematian maka dapat dilakukan acara ritual yang disebut Ngepras, Ngepras artinya memohon Sang Hyang Widhi agar tempat tersebut dijauhkan dari sangkala.


Kepribadian Suku Tengger


Gambar terkait


         Di dalam kehidupan sehari hari orang tengger mempunyai kebiasaan hidup sederhana, rajin, dan damai. Mereka adalah petani. Ladang mereka di lereng - lereng puncak yang berbukit - bukit. Alat pertanian yang mereka pakai sangat sederhana, terdiri dari cangkul, sabit, dan semacamnya. Hasil pertaniannya itu terutama jagung, kopi, kentang, kubis, bawang prei, wortel, dsb. Kebanyakan mereka bertempat tinggal jauh dari ladangnya, sehingga harus membuat gubuk gubuk sederhana di ladangnya untuk berteduh sementara waktu di siang hari. Mereka bekerja sangat rajin dari pagi hingga petang hari di ladangnya. Pada umumnya masyarakat Tengger hidup sangat sederhana dan hemat. Kelebihan penjualan hasil ladang ditabung untuk perbaikan rumah serta keperluan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya.






Daftar Pustaka

Jati Batoro, 2017 Keajaiban Bromo Tengger Semeru, Universitas Brawijaya Press (UB Press)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar